Langkah Meminimalisir Dampak Buruk Media Sosial dan Gawai pada Anak
Menyikapi Gadget Secara Bijak dalam Pendidikan Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Tarbiyah Jinsiyyah (Pendidikan Seksual Untuk Anak Dan Remaja Dalam Islam). Kajian ini disampaikan pada Selasa, 13 Safar 1448 H / 28 Juli 2026 M.
Kajian Tentang Menyikapi Gadget Secara Bijak dalam Pendidikan Anak
Pembiasaan aktivitas fisik ini berfungsi sebagai pengalihan agar anak tidak terjebak dalam aktivitas monoton di dalam rumah yang memicu kebiasaan memegang gawai. Pelaksanaan kegiatan fisik menuntut partisipasi dan keterlibatan orang tua untuk mendampingi serta membersamai anak. Aktivitas fisik yang dilakukan sendirian dapat menimbulkan rasa bosan, sehingga kehadiran orang tua sebagai pendamping sangat diperlukan. Orang tua hendaknya meluangkan waktu agar dapat membersamai anak dalam melakukan berbagai kegiatan fisik tersebut.
Dampak Kurangnya Pembiasaan Aktivitas Fisik pada Anak
Tubuh yang tidak dibiasakan beraktivitas fisik cenderung menjadi malas dan memandang aktivitas fisik sebagai beban yang tidak nyaman. Hal tersebut membuat anak berusaha menghindari aktivitas fisik karena sudah terbiasa dengan kenyamanan aktivitas monoton, seperti bermain gawai dan menonton tayangan layar. Kebiasaan tersebut menyebabkan aktivitas fisik anak melemah.
Banyak remaja pada masa kini lebih memilih bersantai di dalam rumah dan menghabiskan waktu di depan layar gawai hingga berjam-jam. Ketika diajak untuk beraktivitas di luar ruangan yang melibatkan olah tubuh, mereka cenderung malas dan menghindarinya karena aktivitas fisik tidak menjadi kebiasaan sejak dini.
Pilihan anak-anak zaman sekarang kerap jatuh pada permainan gawai yang memanjakan tubuh daripada beraktivitas di luar rumah. Suasana kamar yang nyaman dapat membuat anak lebih memilih bermalas-malasan di dalam kamar. Hal ini berbeda dengan anak-anak pada masa dahulu yang lebih aktif memanfaatkan kesempatan untuk beraktivitas di luar rumah, seperti bermain layang-layang, bermain bola di lapangan, atau bermain petak umpet, karena belum adanya tantangan gawai pada masa itu.
Godaan besar untuk menghabiskan waktu dan memanjakan tubuh dengan bermalas-malasan menuntut hadirnya peran aktif orang tua dalam membersamai anak beraktivitas fisik. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan keteladanan dengan sering meladeni anak-anak, berlari-lari kecil bersama mereka, serta terlibat dalam permainan anak-anak. Keterlibatan orang dewasa di dalam aktivitas bermain mampu menghadirkan rasa gembira di dalam hati anak-anak.
Poin kelima dari pendidikan anak adalah membiasakan mereka sejak kecil dengan kegiatan yang bersifat fisik atau olah tubuh, di samping kegiatan yang melibatkan fungsi berpikir otak. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sering mengajukan pertanyaan kepada anak-anak, remaja, maupun orang dewasa di majelis ilmu untuk memancing dan melatih kemampuan berpikir mereka. Materi yang disampaikan sederhana, yaitu dengan melontarkan satu perkara atau pertanyaan kepada para sahabat hingga mereka berlomba-lomba menjawabnya.
Salah satu momen berharga terjadi tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan perumpamaan seorang muslim kepada para sahabat. Para sahabat mencoba menjawab dengan menyebutkan berbagai pohon di daerah pedalaman. Jawaban yang tepat berada di depan mereka, yaitu pohon kurma. Metode melontarkan pertanyaan di dalam majelis ilmu ini bertujuan melatih keterlibatan pikiran para pendengar.
Pentingnya Keterlibatan Audiens dan Pelatihan Fungsi Otak
Proses mendengarkan saja tanpa keterlibatan pikiran berpotensi menyebabkan materi berlalu begitu saja tanpa dipahami. Pengajuan pertanyaan kepada audiens baik dewasa, anak-anak, laki-laki, maupun perempuan menjadi cara efektif yang sering digunakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk melatih kemampuan berpikir mereka, sebagaimana dialog beliau bersama sahabat muda seperti Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma dan Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘Anhu.
Otak memerlukan latihan secara berkala agar terbiasa berpikir kritis. Beberapa kegiatan yang dapat mengaktifkan fungsi otak antara lain membaca dan berusaha menemukan jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Melontarkan pertanyaan yang tidak terduga kepada audiens tidak hanya bertujuan agar mereka mengetahui jawaban, tetapi juga untuk melatih manusia agar terbiasa berpikir.
Pentingnya Berpikir dan Belajar dalam Agama Islam
Keistimewaan seorang muslim terletak pada kebiasaannya berpikir karena pondasi utama agama Islam adalah belajar. Tidak ada tempat bagi orang yang enggan belajar di dalam agama ini. Hal ini dibuktikan dengan ayat Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan adalah perintah untuk membaca:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan.” (QS. Al-Alaq[96]: 1)
Umat Islam juga diperintahkan untuk senantiasa menanyakan perkara yang tidak diketahui kepada para ahli ilmu, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl[16]: 43)
Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat memuji orang-orang yang mau berpikir dan merenung (ulul albab atau ulun nuha). Bahkan, Al-Qur’an diturunkan dengan tujuan utama untuk ditadaburi isi kandungannya:
أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad[47]: 24)
Seseorang yang tidak terbiasa berpikir sejak kecil cenderung tidak menyukai dan enggan merenungkan pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Padahal, melontarkan pertanyaan merupakan metode yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan diterapkan di dalam Al-Qur’an. Allah ‘Azza wa Jalla sering mendorong hamba-Nya untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang diajukan di dalam ayat-ayat-Nya:
أَفَلاَ يَنْظُرُونَ إِلَى الإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ . وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ . وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?” (QS. Al-Ghasyiyah[88]: 17–19)
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sengaja dihadirkan agar manusia terdorong untuk mencari tahu dan mempelajari fenomena di sekitarnya.
Umat Islam perlu mengubah pola pikir (mindset) di dalam menuntut ilmu. Majelis ilmu bertujuan untuk memeriksakan kesehatan rohani dan melatih daya pikir, bukan sekadar memuaskan pendengaran atau menjadi sarana hiburan dan pelarian.
Membaca sebagai Aktivitas Positif Pembentuk Daya Fikir
Anak-anak perlu diajari dan dibiasakan sejak dini untuk melakukan kegiatan yang melibatkan aktivitas kerja otak. Salah satu kegiatan positif yang menuntut kerja otak adalah membaca.
Metode membaca cepat telah diterapkan di berbagai lembaga pendidikan untuk menumbuhkan minat baca pada anak-anak agar mereka akrab dengan buku. Pembiasaan membaca buku ini menjadi salah satu sarana efektif untuk mengalihkan dan membebaskan anak dari ketergantungan pada gawai.
Kegemaran anak-anak zaman sekarang yang melakukan tarian di depan kamera ponsel demi siaran langsung di media sosial dapat merusak daya pikir dan mematikan fungsi kreatif otak. Generasi yang terbiasa dengan hal-hal dangkal tersebut akan kesulitan untuk menyukai aktivitas membaca dan berpotensi mengalami kemunduran dalam berpikir.
Pemanfaatan Gawai sebagai Sarana Kebaikan dan Edukasi
Langkah keenam dalam pendampingan anak adalah menjelaskan agar gawai dimanfaatkan sebagai sarana yang menolong dalam kebaikan dan hal-hal positif. Ketika anak usia sepuluh tahun ke atas sudah tidak mungkin dihindarkan dari gawai, pendampingan, arahan, serta petunjuk dari orang tua sangat diperlukan agar gawai di tangan anak memberikan manfaat yang maksimal.
Teknologi dan gawai tidak haram untuk digunakan karena sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Sisi positif dari teknologi terbukti memberikan kebaikan yang luas, termasuk keberadaan orang-orang yang memperoleh hidayah dan masuk Islam setelah mengenal ajaran Islam melalui konten-konten bermanfaat di media sosial dan platform video. Akses informasi tepercaya mengenai Islam dapat menjangkau orang-orang nonmuslim yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses untuk belajar secara langsung.
Teknologi menyajikan berbagai kemudahan, salah satunya keberadaan buku digital dan perpustakaan digital seperti Maktabah Syamilah. Ribuan kitab dan buku referensi kini dapat diakses dalam satu aplikasi yang praktis, sehingga waktu yang dimiliki anak dapat diisi dengan membaca bacaan yang bermanfaat di mana saja.
Kemudahan gawai serta aplikasi buku digital berfungsi sebagai alat bantu belajar dan tidak dapat menggantikan fungsi utama perpustakaan fisik maupun buku berbentuk cetak. Hal ini sejalan dengan kajian keilmuan secara dalam jaringan (online streaming) yang membantu menyebarkan informasi, tetapi tidak dapat menggantikan keberkahan hadir secara langsung di dalam majelis ilmu.
Membangun Komunikasi Berkesinambungan dan Manajemen Waktu Anak
Langkah ketujuh dalam pendampingan anak adalah membangun komunikasi serta dialog yang nyaman dan intens. Komunikasi yang intens berarti interaksi berjalan secara berkesinambungan, memiliki kemajuan (progres), serta tidak terputus. Topik pembicaraan hendaknya bervariasi dan saling terhubung agar anak tidak merasa bosan akibat pembahasan hal-hal yang sama secara berulang-ulang.
Anak-anak juga perlu diarahkan dan dilatih untuk mengelola waktu dengan baik. Dalam kurun waktu 24 jam yang dikaruniakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, terdapat pembagian untuk ibadah, istirahat, makan, serta berinteraksi sosial dengan keluarga dan tetangga. Meskipun dunia anak didominasi oleh aktivitas bermain, porsi waktu tetap harus diatur secara seimbang antara belajar, bermain, dan memenuhi hak tubuh. Pembiasaan manajemen waktu ini mencegah anak dari menghabiskan seluruh waktunya di depan layar gawai atau televisi secara sia-sia.
Sikap Lemah Lembut dan Kesabaran dalam Mendidik Anak
Langkah kedelapan adalah mengingatkan anak secara lemah lembut apabila melakukan kesalahan atau pelanggaran. Orang tua tidak boleh melakukan pembiaran ketika anak berbuat salah. Kesalahan anak harus diluruskan, diingatkan, dan diberi pelajaran melalui cara yang bijaksana serta penuh kasih sayang.
Orang tua hendaknya tidak menempatkan diri sebagai pihak penuntut atau penghukum yang terburu-buru menjatuhkan sanksi fisik maupun vonis atas dasar ketidaksabaran. Kesabaran dalam menasihati dan membimbing anak memerlukan waktu yang panjang, sebagaimana keteladanan para nabi di dalam Al-Qur’an. Nabi Nuh ‘Alaihissalam dan Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam menunjukkan kesabaran bertahun-tahun di dalam membimbing serta menasihati anak-anak mereka.
Kesadaran Diri Orang Tua dan Pentingnya Kesabaran dalam Mendidik
Orang tua tidak boleh menafikan kenyataan bahwa diri mereka pun kerap melakukan kesalahan. Saat anak menyampaikan ingatan kecil atas kekeliruan orang tua, tidak semestinya orang tua merasa tersinggung, marah, atau menuduh anak berani melawan. Setiap orang dewasa yang berbuat salah tentu tidak ingin langsung divonis atau dijatuhi hukuman tanpa diajak bicara baik-baik. Sikap yang sama juga menjadi harapan bagi anak-anak tatkala mereka melakukan kesalahan.
Keinginan agar orang lain bersabar menghadapi kekurangan diri hendaknya diimbangi dengan kesabaran orang tua dalam menghadapi anak. Pelanggaran yang dilakukan anak perlu diingatkan secara bijak, lembut, dan berulang-ulang tanpa rasa putus asa. Penentu perubahan hati seorang hamba bukanlah ucapan atau instruksi manusia, melainkan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manusia hanya berkewajiban menyampaikan nasihat, sedangkan hasil akhir berada di bawah ketetapan-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an mengenai kewajiban menyampaikan risalah:
فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاَغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ
“Kewajibanmu hanyalah menyampaikan saja, sedangkan Kamilah yang akan menghisab amalan mereka.” (QS. Ar-Ra’d[13]: 40)
Orang tua sering kali bersikap berlebihan (hiperbolis) dengan merasa telah menasihati anak berkali-kali dan menuntut hasil yang serba instan, padahal proses bimbingan baru berjalan singkat. Pengingatan atas kesalahan anak tidak boleh dibiarkan begitu saja karena pembiaran merupakan tindakan yang salah di dalam pendidikan. Namun, cara penyampaian nasihat tetap harus diperhatikan agar tidak berakibat fatal bagi tumbuh kembang anak.
Metode Kelembutan dalam Meluruskan Kekeliruan
Proses meluruskan kesalahan anak dapat diumpamakan sebagaimana petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika menjelaskan sifat wanita seperti tulang rusuk yang bengkok. Jika tulang rusuk yang bengkok didiamkan, ia akan tetap bengkok selamanya. Sebaliknya, jika diluruskan secara kasar dan tergesa-gesa, tulang tersebut akan patah.
Dua langkah utama dalam meluruskan kesalahan adalah bersikap lembut dan melakukannya secara konsisten berulang kali. Manusia pada dasarnya menyukai perlakuan yang lembut dan tidak menyukai kekerasan. Nasihat yang disampaikan secara lembut dan berkesinambungan akan meluruskan kekeliruan sedikit demi sedikit tanpa mengharapkan hasil yang instan.
Proses Penerimaan Nasihat dan Pentingnya Kesabaran
Keputusan akhir atas perubahan hati seseorang berada di bawah kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang dapat menerima hidayah hanya dengan satu atau dua kali nasihat, sedangkan yang lain memerlukan waktu bertahun-tahun hingga dapat memahami dan memurnikannya. Hidayah merupakan kehendak Allah ‘Azza wa Jalla yang mutlak.
Tugas utama manusia adalah menyampaikan nasihat dengan kebenaran dan kesabaran. Penyampaian ilmu dan nasihat kepada sesama yang membutuhkan merupakan tabungan amal kebaikan.
Penyampaian nasihat atau peringatan atas suatu pelanggaran yang dilakukan dengan cara kasar akan memicu konflik serta keributan antara orang tua dan anak. Pola komunikasi yang penuh amarah menciptakan jarak emosional dan jurang pemisah, sehingga tujuan awal untuk meluruskan kesalahan tidak tercapai dan justru menimbulkan rasa benci serta permusuhan. Oleh karena itu, pengingatan atas kesalahan harus disampaikan secara lembut.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56415-langkah-meminimalisir-dampak-buruk-media-sosial-dan-gawai-pada-anak/